Apa itu CAPTCHA?

Apa itu CAPTCHA?

CAPTCHA adalah singkatan dari "completely automated public Turing test* to tell computers and humans apart" (uji Turing publik yang sepenuhnya otomatis untuk membedakan antara komputer dan manusia). CAPTCHA menggunakan berbagai metode autentikasi yang memvalidasi pengguna sebagai manusia, bukan bot, dengan memberikan tantangan yang mudah dipecahkan manusia, tetapi sulit dijawab oleh mesin.

CAPTCHA mencegah penipu dan pengirim spam menggunakan bot untuk mengisi formulir web demi tujuan buruk.

CAPTCHA tradisional mengharuskan pengguna untuk membaca dan mengetik ulang dengan benar teks yang terdistorsi dan tidak dapat ditafsirkan oleh teknologi pengenalan karakter optik (OCR). Iterasi teknologi CAPTCHA yang lebih baru menggunakan analisis perilaku dan risiko berbasis AI untuk mengautentikasi pengguna manusia berdasarkan beberapa pola aktivitas, bukan hanya satu tugas.

Banyak situs web yang mengharuskan pengguna menyelesaikan tantangan CAPTCHA sebelum masuk ke profil akun, mengirim formulir pendaftaran, mengirim komentar, atau melakukan tindakan lain yang mungkin dilakukan peretas dengan menggunakan bot. Dengan memenuhi tantangan tersebut, pengguna mengonfirmasi bahwa dirinya adalah manusia dan kemudian diizinkan untuk melanjutkan aktivitas di situs web.

* Tes Turing, dinamai sesuai penciptanya Alan Turing, menguji kemampuan mesin dalam menunjukkan kecerdasan manusia.

Apakah tim Anda akan mampu mendeteksi zero-day berikutnya tepat waktu?

Bergabunglah dengan para pemimpin keamanan yang mengandalkan Buletin Think untuk berita yang dikurasi tentang AI, keamanan siber, data, dan otomatisasi. Pelajari dengan cepat dari tutorial pakar dan penjelas—dikirimkan langsung ke kotak masuk Anda. Lihat Pernyataan Privasi IBM®.

Langganan Anda akan disediakan dalam bahasa Inggris. Anda akan menemukan tautan berhenti berlangganan di setiap buletin. Anda dapat mengelola langganan atau berhenti berlangganan di sini. Lihat Pernyataan Privasi IBM® kami untuk informasi lebih lanjut.

https://www.ibm.com/id-id/privacy

Evolusi CAPTCHA

Beberapa kelompok yang berbeda mengembangkan bentuk awal teknologi CAPTCHA secara paralel selama akhir 1990-an dan awal 2000-an. Tiap kelompok berjuang memerangi maraknya masalah peretas yang menggunakan bot untuk aktivitas berbahaya di internet. Sebagai contoh, ilmuwan komputer yang bekerja untuk mesin pencari AltaVista ingin menghentikan bot yang menambahkan alamat web berbahaya ke database tautan perusahaan.

Para peneliti di perusahaan TI, Sanctum, mendokumentasikan sistem bergaya CAPTCHA pertama pada 1997. Namun, sekelompok peneliti ilmu komputer di Carnegie Mellon University di bawah pimpinan Luis von Ahn dan Manuel Blum merupakan yang pertama kali memperkenalkan istilah CAPTCHA pada 2003. Tim ini terinspirasi untuk mengerjakan teknologi ini setelah mendengarkan pembicaraan seorang petinggi Yahoo seputar masalah yang dihadapi perusahaan tersebut: spambot yang mendaftarkan jutaan akun email palsu.

Untuk mengatasi masalah Yahoo, von Ahn dan Blum menciptakan program komputer yang:

  1. menghasilkan serangkaian teks acak,
  2. menghasilkan gambar terdistorsi dari teks tersebut (disebut ‘kode CAPTCHA’),
  3. menyajikan gambar tersebut kepada pengguna,
  4. meminta pengguna untuk memasukkan teks ke kolom formulir dan kemudian mengirimkan entri dengan mengklik kotak centang di sebelah frasa "Saya bukan robot".

Karena teknologi OCR pada saat itu kesulitan mengurai teks terdistorsi semacam ini, bot gagal menyelesaikan tantangan CAPTCHA. Jika pengguna memasukkan rangkaian karakter yang benar, dapat diasumsikan bahwa pengguna tersebut adalah manusia dan akan diizinkan untuk menyelesaikan pendaftaran akun atau pengiriman formulir web.

Yahoo menerapkan teknologi milik Carnegie Mellon, yang mengharuskan semua pengguna menyelesaikan tes CAPTCHA sebelum mendaftar untuk mendapatkan alamat email. Hal ini secara signifikan mengurangi aktivitas spambot, dan perusahaan-perusahaan lain kemudian ikut mengadopsi CAPTCHA untuk melindungi formulir web mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, para peretas menggunakan data dari tantangan CAPTCHA yang telah diselesaikan untuk mengembangkan algoritma yang mampu menyelesaikan tes CAPTCHA dengan baik. Hal ini menandai dimulainya adu kekuatan antara pengembang CAPTCHA dan penjahat siber yang telah memicu evolusi fungsi CAPTCHA.

reCAPTCHA v1

Diluncurkan oleh von Ahn pada 2007, reCAPTCHA v1 memiliki tujuan ganda: membuat tantangan CAPTCHA berbasis teks menjadi lebih sulit dipecahkan oleh bot dan meningkatkan akurasi OCR yang pada saat itu digunakan untuk mendigitalkan teks cetak.

reCAPTCHA mencapai tujuan pertamanya dengan meningkatkan distorsi teks yang ditampilkan kepada pengguna, dan akhirnya menambahkan baris pada teks.

Tujuan kedua kemudian dicapai dengan mengganti satu gambar teks terdistorsi yang dibuat secara acak dengan dua gambar teks terdistorsi dari kata-kata yang dipindai dari teks asli oleh dua program OCR yang berbeda. Kata pertama, atau kata kontrol, adalah kata yang diidentifikasi dengan benar oleh kedua program OCR. Kata kedua adalah kata yang gagal diidentifikasi oleh kedua program OCR. Jika pengguna mengidentifikasi kata kontrol dengan benar, reCAPTCHA akan mengasumsikan bahwa pengguna tersebut adalah manusia dan memberi izin untuk melanjutkan aktivitas. reCAPTCHA juga akan mengasumsikan bahwa pengguna telah mengidentifikasi kata kedua dengan benar, serta menggunakan respons tersebut untuk memverifikasi hasil OCR di masa mendatang.

Dengan cara ini, reCAPTCHA meningkatkan keamanan antibot sekaligus akurasi teks yang didigitalkan di Internet Archive dan New York Times. Ironisnya, seiring berjalannya waktu, sistem ini juga membantu meningkatkan algoritma kecerdasan buatan dan machine learning hingga kedua teknologi ini dapat mengidentifikasi teks CAPTCHA yang paling terdistorsi hampir sepanjang waktu (99,8%) pada 2014.

Pada 2009, Google mengakuisisi reCAPTCHA dan mulai menggunakannya untuk mendigitalkan teks untuk Google Books sambil menawarkannya sebagai layanan kepada organisasi lain. Namun, kemajuan teknologi OCR dengan bantuan reCAPTCHA dibarengi dengan program kecerdasan buatan yang dapat secara efektif memecahkan reCAPTCHA berbasis teks. Menanggapi hal tersebut, Google memperkenalkan pengenalan gambar reCAPTCHA pada 2012, yang menggantikan teks terdistorsi dengan gambar yang diambil dari Google Street View. Pengguna membuktikan bahwa dirinya manusia dengan mengidentifikasi objek dunia nyata seperti lampu jalan dan taksi. Selain menghindari OCR canggih yang sekarang digunakan oleh bot, reCAPTCHA berbasis gambar ini dianggap lebih nyaman bagi pengguna aplikasi seluler.

Google reCAPTCHA v2: reCAPTCHA tanpa CAPTCHA

Pada 2014, Google merilis reCAPTCHA v2, yang menggantikan tantangan berbasis teks dan gambar dengan kotak centang sederhana berisi pernyataan "Saya bukan robot". Saat pengguna mencentang kotak ini, reCAPTCHA v2 menganalisis interaksi pengguna dengan halaman web, mengevaluasi berbagai faktor seperti kecepatan mengetik, cookie, riwayat perangkat, dan alamat IP untuk menentukan apakah pengguna kemungkinan besar manusia. Kotak centang juga merupakan bagian dari cara kerja CAPTCHA: reCAPTCHA tanpa CAPTCHA melacak pergerakan mouse pengguna saat mengklik kotak. Pergerakan manusia cenderung lebih kacau, sedangkan pergerakan bot lebih tepat. Jika reCAPTCHA tanpa CAPTCHA mencurigai pengguna sebagai bot, pengguna akan diberikan tantangan CAPTCHA berbasis gambar.

reCAPTCHA v3

reCAPTCHA v3 yang diluncurkan pada 2018 tidak lagi menggunakan kotak centang dan mengembangkan analisis risiko berbasis AI dari reCAPTCHA tanpa CAPTCHA. ReCAPTCHA v3 terintegrasi dengan halaman web melalui JavaScript API dan berjalan di latar belakang, serta menilai perilaku pengguna pada skala 0,0 (kemungkinan bot) hingga 1,0 (kemungkinan manusia). Pemilik situs web dapat mengatur tindakan otomatis yang akan dipicu pada saat-saat tertentu ketika skor menunjukkan bahwa pengguna kemungkinan adalah bot. Misalnya, komentar blog dari pengguna dengan skor rendah dapat dikirim ke antrean moderasi ketika pengguna mengklik "kirim", atau pengguna dengan skor rendah mungkin diminta untuk menyelesaikan proses autentikasi multifaktor ketika mencoba masuk ke akun.

Metode autentikasi berbasis AI seperti reCAPTCHA v3 berusaha menghindari masalah peretas. Dengan menghapus tantangan interaktif dari proses verifikasi CAPTCHA, metode ini mencegah peretas menggunakan data dari tantangan yang telah diselesaikan sebelumnya untuk melatih bot menyelesaikan CAPTCHA baru. Oleh karena itu, para ahli percaya bahwa CAPTCHA berbasis AI dapat menjadi metode standar dan akan sepenuhnya menggantikan CAPTCHA berbasis tantangan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Contoh penggunaan CAPTCHA

Teknologi CAPTCHA memiliki beberapa kegunaan umum sebagai tindakan deteksi dan pencegahan bot, termasuk:

  1. Mencegah pendaftaran palsu
  2. Melindungi terhadap transaksi yang mencurigakan
  3. Melindungi integritas jajak pendapat online
  4. Menghentikan spam komentar dan ulasan produk
  5. Melawan serangan brute force dan dictionary attack

Mencegah pendaftaran palsu

Dengan memberikan tes CAPTCHA kepada pengguna sebelum mendaftarkan akun email, profil media sosial, atau layanan online lainnya, perusahaan dapat memblokir bot yang menggunakan layanan ini untuk menyebarkan spam atau malware atau melakukan aktivitas berbahaya. Pengguna awal CAPTCHA adalah perusahaan-perusahaan seperti Yahoo, Microsoft, dan AOL, yang ingin menghentikan bot untuk mendaftarkan akun email palsu.

Melindungi terhadap transaksi yang mencurigakan

Perusahaan seperti Ticketmaster telah menggunakan CAPTCHA untuk menghentikan bot agar tidak membeli komoditas terbatas, misalnya tiket konser, dan menjualnya kembali di pasar sekunder.

Melindungi integritas jajak pendapat online

Bot dapat mengganggu jajak pendapat online tanpa pencegah seperti CAPTCHA. Diperlukannya perlindungan terhadap integritas hasil jajak pendapat online memotivasi beberapa eksperimen paling awal dalam teknologi mirip CAPTCHA. Sebagai contoh, untuk memastikan kualitas jajak pendapat online selama pemilihan presiden AS pada 1996, Digital Equipment Corporation meminta pengguna untuk menemukan dan mengklik gambar piksel bendera pada halaman web sebelum memberikan suara mereka.

Menghentikan spam pada komentar dan ulasan produk

Scammer dan penjahat siber sering menggunakan kolom komentar blog dan artikel untuk menyebarkan scam dan malware. Mereka mungkin juga melakukan spam ulasan dengan memposting ulasan palsu dalam jumlah banyak demi meningkatkan peringkat produk secara artifisial di situs web ecommerce atau mesin pencari. Bot juga dapat menggunakan kolom komentar yang tidak dilindungi untuk melakukan kampanye pelecehan. Aktivitas berbahaya ini dapat diminimalkan dengan meminta pengguna menyelesaikan CAPTCHA sebelum memosting komentar atau ulasan.

Melawan serangan brute-force dan serangan kamus

Pada serangan brute-force dan dictionary attack, peretas membobol akun dengan menggunakan bot untuk menebak kombinasi angka, huruf, dan karakter khusus hingga menemukan kata sandi yang benar. Serangan ini dapat dihentikan dengan meminta pengguna menyelesaikan CAPTCHA setelah gagal login dalam jumlah tertentu.

Kekurangan CAPTCHA

Meski CAPTCHA secara umum terbukti efektif dalam menghentikan bot, teknologi juga memiliki kekurangan, antara lain:

  1. Pengalaman pengguna yang kurang menyenangkan
  2. Tantangan aksesibilitas
  3. Mengurangi tingkat konversi
  4. Kemampuan AI bot dalam menyelesaikan CAPTCHA baru
  5. Masalah privasi

Pengalaman pengguna yang kurang menyenangkan

Tantangan CAPTCHA memberikan langkah tambahan pada proses pendaftaran, login, dan pengisian formulir yang bagi sebagian orang merepotkan. Selain itu, dengan meningkatnya kompleksitas CAPTCHA demi mengalahkan bot yang lebih canggih, proses penyelesaian CAPTCHA juga merepotkan bagi pengguna. Dalam studi yang dilakukan pada 2010, saat peneliti di Stanford University meminta sekelompok orang yang terdiri dari tiga orang memecahkan CAPTCHA yang sama, hanya 71% dari solusi CAPTCHA yang disetujui dengan suara bulat oleh para peserta. Studi tersebut juga menemukan bahwa bukan penutur asli bahasa Inggris lebih sulit menyelesaikan CAPTCHA dibandingkan penutur asli. Ini menunjukkan bahwa CAPTCHA mungkin lebih menantang bagi beberapa kelompok demografis daripada yang lain.

Tantangan aksesibilitas

CAPTCHA teks dan gambar bisa sangat menantang atau mustahil diselesaikan bagi pengguna yang memiliki gangguan penglihatan. Hal ini diperparah oleh fakta bahwa pembaca layar gagal membaca sebagian besar tantangan CAPTCHA karena tes ini dirancang agar tidak dapat terbaca oleh mesin.

Berbagai format alternatif CAPTCHA telah berupaya mengatasi masalah ini, tetapi memiliki keterbatasannya masing-masing. CAPTCHA audio, yang mengharuskan pengguna menguraikan audio yang tidak jelas, terkenal sulit dipecahkan. Studi Stanford yang telah disebutkan sebelumnya menemukan bahwa hanya 31% solusi CAPTCHA audio yang disetujui dengan suara bulat oleh para pengguna.

MAPTCHA, suatu jenis CAPTCHA yang mengharuskan pengguna memecahkan masalah matematika sederhana, sangat rentan untuk dibobol oleh algoritma.

Menggunakan CAPTCHA yang tidak dapat diakses juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum. Pasal 508 Amendemen Undang-Undang Rehabilitasi tahun 1973, yang diterbitkan pada 1998, mewajibkan badan-badan federal AS dan mitra sektor swasta mereka untuk menyediakan akses informasi digital bagi para penyandang disabilitas. Perusahaan bisa jadi melanggar ketentuan ini jika mereka tidak memiliki opsi CAPTCHA yang dapat diakses.

Penurunan tingkat konversi

Pengalaman pengguna yang tidak menyenangkan dan kesulitan mengakses CAPTCHA dapat menimbulkan dampak negatif bagi tingkat konversi. Dalam studi kasus tahun 2009 terhadap 50 situs web, meminta pengguna untuk menyelesaikan CAPTCHA mengurangi konversi yang sah sebesar 3,2%. CAPTCHA audio bisa lebih menyulitkan lagi: studi Stanford yang sama menemukan bahwa pengguna menyerah untuk menyelesaikan tantangan CAPTCHA berbasis suara pada 50% percobaan.

Kemampuan AI bot dalam menyelesaikan CAPTCHA baru

Skema teknologi CAPTCHA telah berulang kali berubah sejak awal kemunculannya karena bot selalu berevolusi untuk memecahkan setiap tantangan CAPTCHA baru. Struktur teknologi CAPTCHA juga menjadi salah satu penyebab masalah ini, karena CAPTCHA bergantung pada masalah AI yang belum terpecahkan untuk menggagalkan bot. Ketika manusia memecahkan tantangan CAPTCHA, mereka menghasilkan kumpulan data yang dapat melatih algoritma machine learning untuk mengatasi masalah AI yang sebelumnya mustahil dipecahkan. Sebagai contoh, pada 2016, peneliti ilmu komputer Jason Polakis berhasil menyelesaikan 70% CAPTCHA berbasis gambar Google dengan menggunakan penelusuran balik gambar Google.

Masalah privasi

Meskipun format baru CAPTCHA mencoba mengatasi masalah aksesibilitas dan menghentikan adu kekuatan bot dengan sepenuhnya menghapus tantangan interaktif, beberapa pengguna dan peneliti menganggap CAPTCHA berbasis AI bersifat invasif. Banyak pihak yang menyampaikan kekhawatiran tentang penggunaan kode dan cookie oleh reCAPTCHA v3 untuk melacak pengguna di berbagai situs web. Beberapa pihak merasakan kurangnya transparansi tentang penggunaan data pelacakan ini untuk tujuan di luar verifikasi.

Solusi terkait
IBM Verify

Bangun kerangka kerja identitas yang aman dan agnostik vendor yang memodernisasi IAM, terintegrasi dengan alat yang ada, dan memungkinkan akses hybrid tanpa menambah kerumitan.

Jelajahi IBM Verify
Solusi keamanan

Lindungi lingkungan hybrid cloud dan AI Anda dengan perlindungan cerdas dan otomatis di seluruh data, identitas, dan ancaman.

Jelajahi solusi keamanan
Layanan Manajemen Identitas & Akses

Lindungi dan kelola akses pengguna dengan kontrol identitas otomatis dan tata kelola berbasis risiko di seluruh lingkungan hybrid cloud.

    Jelajahi layanan IAM
    Ambil langkah selanjutnya

    Tingkatkan IAM with Verify untuk akses hybrid yang mulus, dan perkuat perlindungan identitas dengan mengungkap risiko berbasis identitas tersembunyi dengan AI.

    Kenali IBM® Verify  Jelajahi perlindungan identitas IBM® Verify