Data keberlanjutan adalah informasi yang mengukur dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi perusahaan, termasuk penggunaan energi, emisi gas rumah kaca dan rantai pasokan. Organisasi menggunakannya untuk menetapkan garis dasar, menginformasikan pengambilan keputusan, mengelola risiko, memenuhi persyaratan pelaporan, dan mendukung penciptaan nilai.
Dorongan untuk mencapai keberlanjutan dalam bisnis telah berkembang pesat selama satu abad terakhir. Praktik bisnis yang berkelanjutan—seperti meningkatkan efisiensi energi, beralih ke energi terbarukan, dan melestarikan keanekaragaman hayati—sering kali dianalisis berdasarkan metrik environmental, social and governance (ESG). Perusahaan membagikan data keberlanjutan yang dihasilkan dalam laporan ESG untuk investor atau laporan keberlanjutan untuk audiens yang lebih beragam.
Konsep keberlanjutan dipopulerkan secara luas oleh Brundtland Commission, sebuah subdivisi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berusaha menyatukan negara-negara melalui upaya mencapai keberlanjutan. Pada tahun 1987, Komisi ini menerbitkan"Our Common Future, From One Earth to One World", sebuah laporan yang mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai "upaya memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri."1
Di tengah mulai sadarnya masyarakat akan keberlanjutan, perusahaan merasakan tekanan untuk mengurangi dampak buruk lingkungan dan sosial yang diakibatkan oleh operasi mereka. Maka, versi awal data keberlanjutan terbentuk saat organisasi mengukur dampaknya pada tiga pilar keberlanjutan—lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menciptakan Sustainable Development Goals (SDG, atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) yang menguraikan 17 target keberlanjutan. SDG menetapkan agenda global untuk pembangunan berkelanjutan dengan harapan mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan pada tahun 2030. Mereka juga memberikan target yang jelas bagi perusahaan untuk mengukur inisiatif keberlanjutan mereka sendiri, sehingga data keberlanjutan tidak lagi menjadi sebuah kemewahan dan lebih merupakan sebuah keharusan.
Perusahaan menggunakan metrik keberlanjutan untuk beberapa alasan, termasuk:
Data keberlanjutan memberikan insight utama untuk mengoptimalkan rantai nilai terhadap metrik ESG. Beberapa bisnis menggunakan data keberlanjutan untuk memastikan mereka memasok secara etis bahan baku selama fase pengadaan. Yang lain menggunakannya untuk melacak penggunaan bahan bakar sehingga mereka dapat meningkatkan manajemen armada. Contohnya Eltel, perusahaan penyedia layanan telekomunikasi Skandinavia yang menggunakan penghitungan karbon untuk mengoptimalkan rute armada kendaraannya, yang mengurangi penggunaan bahan bakar dan emisi karbon dalam prosesnya.2
Perusahaan dapat menggunakan data keberlanjutan untuk meningkatkan operasi dan mengukur kinerja keberlanjutan secara akurat. Misalnya, perusahaan dapat melacak penggunaan energi untuk mengelola konsumsi energi dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya. IKEA, konglomerat multinasional Swedia, menggunakan data keberlanjutan untuk meminimalkan jejak karbonnya, meningkatkan pengelolaan limbah, dan beralih ke energi terbarukan di seluruh operasinya3
Beberapa perusahaan menyertakan data keberlanjutan di samping laporan keuangan mereka untuk memenuhi permintaan para pemangku kepentingan akan transparansi yang lebih besar. Data keberlanjutan dapat digunakan sebagai tolok ukur dari tahun ke tahun untuk memastikan bahwa organisasi memenuhi tujuan keberlanjutan mereka, sehingga meningkatkan reputasi merek dalam prosesnya. Mahindra Group, sebuah federasi multinasional yang berkantor pusat di India, menggunakan metrik keberlanjutan untuk menarik investor yang memiliki dampak positif yang selaras dengan tujuan perusahaan.4
Data keberlanjutan membantu perusahaan memenuhi mandat pelaporan.Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan dampak sosial dan lingkungan mereka. Sustainable Accounting Standards Board (SASB) dan Taskforce on Climate-Related Financial Disclosure (TCFD) memberikan panduan cara menyiapkan laporan ESG dan keberlanjutan. Hampir semua dari 250 perusahaan teratas dunia (G250) memberikan laporan keberlanjutan, dengan tingkat pelaporan 96%.5
Banyak organisasi menggunakan manajemen data keberlanjutan yang andal untuk sepenuhnya menyadari kekuatan data keberlanjutan.
Manajemen data keberlanjutan adalah pengumpulan, analisis, pengoptimalan, dan pelaporan data keberlanjutan. Hal ini memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup seluruh perusahaan karena data keberlanjutan sering kali tersebar di berbagai sistem dan departemen yang berbeda dan terisolasi.
Pengumpulan data melibatkan pengambilan data kuantitatif dan kualitatif.
Data ini terdiri dari statistik, angka dan angka. Contohnya termasuk belanja modal untuk inisiatif keberlanjutan, KPI seputar emisi gas rumah kaca, dan metrik konsumsi energi.
Data ini terdiri dari faktor-faktor non-numerik. Contohnya termasuk masukan karyawan mengenai kondisi kerja, laporan kepuasan pelanggan, dan survei dengan vendor rantai pasokan.
Setelah organisasi mengumpulkan data, mereka menganalisis kumpulan data dan mencari peluang untuk mengoptimalkan operasi, mengurangi biaya, dan meningkatkan pengambilan keputusan. Misalnya, data historis seperti laporan cuaca dapat membantu meningkatkan logistik transportasi. Dalam beberapa kasus, data keberlanjutan bahkan dapat memperkirakan potensi permintaan, risiko, dan peluang. Dengan fondasi data keberlanjutan yang kuat, organisasi dapat menyederhanakan pelaporan dan pengungkapan serta mempercepat upaya dekarbonisasi mereka.
Data keberlanjutan biasanya diungkapkan melalui laporan ESG dan laporan keberlanjutan. Apakah laporan ini diamanatkan tergantung pada wilayah. Namun, perusahaan dapat merujuk pada SDG sebagai kerangka kerja dan mengikuti panduan dari organisasi seperti SASB, TCFD, dan International Sustainability Standards Board (ISSB).
Beberapa organisasi menyertakan data keberlanjutan di samping data ESG untuk memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang operasi mereka. Meski serupa, data ESG dan keberlanjutan tidaklah sama. Data ESG memberikan metrik konkret yang dapat digunakan investor dan pemangku kepentingan lainnya untuk menilai perusahaan. Data keberlanjutan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai penggunaan sumber daya dan strategi manajemen keberlanjutan organisasi.
Data keberlanjutan dapat dibagikan melalui dasbor real-time, spreadsheet, atau alat visualisasi data interaktif lainnya, sehingga lebih mudah untuk melacak kemajuan organisasi dan menemukan area untuk perbaikan. Data juga dapat ditampilkan di platform media sosial seperti LinkedIn untuk menyoroti upaya keberlanjutan dan meningkatkan reputasi merek.
1 "Report of the World Commission on Environment and Development: Our Common Future," Perserikatan Bangsa-Bangsa.
2 "Eltel Group uses Normative to track its full carbon footprint," Evan Farbstein, Anne Veiksaar, Normative, 13 Juni 2022.
3 "Our climate agenda," IKEA.
4 "Leadership on ESG reporting has helped boost Mahindra's brand and attract global impact investors" World Economic Forum, November 2023