Kerawanan pangan merupakan salah satu tantangan global terbesar di abad ke-21, mengingat banyak orang mengalami kelaparan setiap hari. Perubahan iklim, konflik global, ketimpangan ekonomi, dan infrastruktur yang buruk terus mengancam konsistensi akses ke makanan segar dan bergizi, terutama di daerah terpencil.
Food Ladder, sebuah organisasi nirlaba pemenang berbagai penghargaan, telah menangani tantangan global yang genting ini selama beberapa waktu. Selama 13 tahun, organisasi ini berupaya memberdayakan masyarakat terpencil dan kurang beruntung melalui inisiatif pendidikan dan praktik berkebun berkelanjutan. Food Ladder telah membawa perubahan yang berdampak besar melalui pengembangan sistem hidroponik dan rumah kaca komersial ringkas berpendingin udara yang dapat dipasang di mana saja.
Food Ladder School System mengintegrasikan teknologi berkebun inovatif ke sekolah dan menawarkan ribuan sumber daya pendidikan yang relevan dengan kurikulum sekolah. Melalui inisiatif ini, guru dapat melibatkan siswa dalam pengalaman belajar langsung sekaligus memproduksi buah dan sayuran segar bagi masyarakat. Bahkan, satu rumah kaca dapat menyediakan 85.000 paket makanan.
Setelah berhasil mendirikan rumah kaca di seluruh Australia dan berekspansi ke Bhutan, India, dan Uganda, Food Ladder menghadapi tantangan penskalaan yang signifikan. Mengingat lebih dari 400 sekolah membutuhkan Food Ladder School System, tim kecil organisasi ini tidak dapat lagi menggunakan pendekatan tradisional, yaitu mengunjungi setiap lokasi terpencil secara fisik untuk mendirikan rumah kaca dan melatih para guru. Pada titik ini, Food Ladder menyadari potensi pemanfaatan teknologi dan AI untuk meningkatkan skalanya. Akan tetapi, mereka khawatir kehilangan sentuhan pribadi yang telah menjadi ciri khas pendekatan mereka. Inilah sebabnya mereka meminta bantuan IBM.
Bekerja sama dengan IBM Client Engineering, Food Ladder mengidentifikasi berbagai area utama untuk kemajuan berbasis AI. Dalam waktu sekitar dua setengah bulan, tim IBM berhasil mengembangkan solusi berdukungan AI yang dibangun menggunakan studio AI IBM watsonx.ai dan IBM watsonx Assistant untuk mentransformasi operasi dan pengalaman pengguna Food Ladder.
Tim ini menerapkan beberapa inovasi penting:
Saat bekerja sama dengan IBM, Food Ladder memberikan beberapa contoh penggunaan untuk otomatisasi. Kelly McJannett, CEO dan salah satu pendiri Food Ladder, mengaku terkejut melihat betapa cepatnya tim IBM mengajukan solusi. Food Ladder dapat mengimplementasikan portofolio produk IBM watsonx di semua contoh penggunaan, sehingga tidak perlu menggunakan beberapa teknologi berbeda. “Bagi kami, masuk ke ranah AI, mencoba berkembang dari 40 sekolah hingga berpotensi mengubah cara makan dunia, hal ini telah sangat memudahkan jalan kami,” kata McJannett.
Implementasi ini telah mengubah operasi internal dan pengalaman guru. Awalnya khawatir bahwa AI dapat mengikis sentuhan pribadi khas Food Ladder, McJannett malahan merasakan dampak sebaliknya.
“Transformasi ini akan memberikan pengalaman yang memperkaya kedua belah sisi, baik di sisi pengajaran maupun di sisi staf internal. Para guru kini bisa kembali menikmati waktu istirahat di malam hari. Mereka dapat melakukan hal yang benar-benar penting dalam mengajar, yaitu dukungan sosial dan memahami kebutuhan setiap anak. Sekarang mereka tak perlu berkutat dengan hal-hal kecil seperti menerapkan pelajaran matematika ke dalam kurikulum dan mengisi berbagai dokumen yang menyertainya. Bagi staf kami, hal ini akan mengembalikan kapasitas mereka untuk melakukan pekerjaan yang lebih penting, yaitu membuat ide, menciptakan, serta meningkatkan penawaran dan platform. Mereka dapat memberikan nilai yang lebih baik kepada para guru, dan bukan hanya sekadar melakukan proses otomatis untuk memastikan ketersediaan struktur tata kelola dan hal-hal serupa,” ujarnya.
Model dasar Granite telah memberikan dampak transformatif, khususnya dalam menciptakan konten edukasi. Para guru sekarang dapat mengakses materi buatan AI yang membutuhkan pengeditan minimal, sehingga tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan persiapan. Kemampuan penalaran model Granite telah menghasilkan perubahan yang konsisten dan masuk akal pada pelajaran, sehingga efektif dalam memenuhi kriteria modifikasi rencana pembelajaran yang diperlukan guru. Guru dapat dengan mudah menyesuaikan pendekatan, gaya, atau tingkat kesulitan pengajaran sekaligus memastikan integritas pendidikan tetap terjaga.
Food Ladder bertransisi dari organisasi yang melakukan seluruh hal dengan cara manual, ke sistem yang sepenuhnya otomatis. Sekolah dapat menggunakan Food Ladder School System untuk membangun, memahami, dan memanen dari sistem pangan mereka sendiri serta terhubung dengan sekolah lain. Food Ladder saat ini beroperasi di 40 sekolah di seluruh Australia dan di beberapa lokasi di India, Bhutan, dan Uganda. Pada 2024, organisasi ini telah menjangkau sekitar 17.000 orang dan menghasilkan 132.480 paket makanan setiap tahun. Melalui kolaborasi dengan IBM, Food Ladder berkeinginan untuk meningkatkan skalanya secara besar-besaran, dengan menerapkan lebih dari 1.000 pusat produksi makanan berdukungan AI di seluruh dunia dan menghasilkan lebih dari 25 juta paket makanan setiap tahun pada tahun 2030.
Pada skala ini, masyarakat akan memiliki akses sepanjang tahun ke produk pangan segar yang belum pernah mereka nikmati sebelumnya. Saat melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan makanan, anak-anak dapat mengembangkan hubungan jangka panjang yang lebih sehat dengan makanan dan nutrisi. Selain itu, menanam produk pangan di rumah kaca Food Ladder lebih efisien dibandingkan dengan sistem berbasis lahan. Pendekatan ini mampu membantu memangkas beberapa rantai pasokan terpanjang di dunia yang menghasilkan emisi karbon tinggi.
“Kami sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan proyek-proyek luar biasa dengan tingkat perkembangan dan skala sebesar ini, dan kini kami dapat melakukannya dalam skala yang lebih besar. Dengan IBM dan para mitra teknologi kami, kami akan merevolusi ketahanan pangan hanya dalam 6 tahun,” kata McJannett.
Food Ladder (tautan berada di luar ibm.com) memberdayakan anak-anak dan masyarakat untuk menanam produk pangan segar mereka sendiri, meningkatkan ketahanan pangan, kesehatan, dan peluang ekonomi melalui rumah kaca hidroponik berbasis AI yang sepenuhnya terintegrasi ke sekolah. Berbasis di Australia, Food Ladder didirikan oleh Kelly McJannett dan Alex Shead, dengan tujuan mengatasi kerawanan pangan secara holistik dan memberikan pendidikan bagi masyarakat kurang mampu dalam skala besar.
© Hak Cipta IBM Corporation 2025. IBM, logo IBM, Granite, IBM watsonx, watsonx Assistant, dan watsonx.ai adalah merek dagang atau merek dagang terdaftar dari International Business Machines Corporation, di Amerika Serikat dan/atau negara lain. Nama produk dan layanan lain mungkin merupakan merek dagang milik IBM atau perusahaan lain. Daftar merek dagang IBM saat ini tersedia di ibm.com/legal/copytrade.
Ini adalah dokumen terbaru pada tanggal awal publikasi dan dapat diubah oleh IBM kapan saja. Tidak semua penawaran tersedia di setiap negara tempat IBM beroperasi.
Contoh disajikan hanya sebagai ilustrasi. Hasil aktual akan bervariasi berdasarkan konfigurasi dan kondisi klien dan, oleh karena itu, hasil yang diharapkan secara umum tidak dapat diberikan.