Kecerdasan buatan (AI) merevolusi tempat kerja dengan mengubah cara bisnis beroperasi dan bagaimana karyawan melaksanakan tugas mereka. Teknologi ini diprediksi akan berdampak signifikan pada ekonomi global dengan mengubah pasar tenaga kerja dan mendefinisikan ulang sifat pekerjaan.
Organisasi memanfaatkan AI di tempat kerja dengan menerapkan berbagai teknologi, seperti machine learning dan pemrosesan bahasa alami, untuk meniru kecerdasan manusia dalam memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menjalankan tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh manusia. AI dapat menganalisis data, mengenali pola, belajar dari pengalaman dan beradaptasi dari waktu ke waktu. Hal ini sering dimanfaatkan untuk menyederhanakan operasi, meningkatkan produktivitas, mengotomatiskan tugas-tugas rutin, dan membantu dalam pengambilan keputusan.
Umumnya, menerapkan AI di tempat kerja melibatkan ekosistem Teknologi yang luas, yang paling umum adalah:
Dengan memanfaatkan kombinasi teknologi ini, penerapan AI di tempat kerja bisa sesederhana mengotomatiskan proses digitalisasi dan pengarsipan catatan karyawan atau menerjemahkan teks dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris. Penerapan ini juga bisa menjadi lebih kompleks, seperti memberikan panduan kepada pengambil keputusan untuk mengoptimalkan proses bisnis perusahaan secara menyeluruh.
Dalam industri layanan kesehatan, asuransi, dan perbankan, AI telah menjadi semakin umum. Contoh penerapannya meliputi membantu peneliti menemukan senyawa obat baru dan memprediksi efektivitasnya, serta mendukung profesional keamanan siber dalam mendeteksi dan mencegah penipuan. AI juga secara rutin digunakan untuk meningkatkan pengalaman karyawan dan pelanggan melalui asisten AI, seperti chatbot dan agen AI.
Organisasi yang memanfaatkan AI memiliki peluang besar untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperbaiki kualitas pengambilan keputusan, dan mendorong terwujudnya inovasi. Beberapa keuntungan utama yang terkait dengan penggunaan AI meliputi:
AI membantu bisnis meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya dengan mengoptimalkan operasi, memperbaiki pengambilan keputusan, dan mengidentifikasi peluang baru untuk pertumbuhan. Dengan memadukan tenaga kerja manusia dengan alat AI, bisnis dapat menghemat sumber daya pada tugas-tugas rutin, sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan yang kreatif dan bernilai tinggi.
Karena AI mampu menganalisis lebih banyak informasi secara simultan dibandingkan manusia, teknologi ini memungkinkan bisnis memanfaatkan potensi penuh data mereka, mengubah informasi mentah menjadi insight yang dapat ditindaklanjuti.
AI meningkatkan pengalaman pelanggan dengan menyediakan interaksi yang lebih personal, layanan yang lebih cepat, dan respons yang lebih akurat. Sistem ini unggul dalam menganalisis perilaku pelanggan, memungkinkan komunikasi dan rekomendasi yang sangat personal, sehingga meningkatkan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
AI mendukung kesejahteraan karyawan dengan mengotomatiskan tugas-tugas rutin, meningkatkan produktivitas, serta mendorong pengembangan keterampilan baru dan alur kerja yang lebih kreatif.
AI membantu para pemimpin bisnis menyusun strategi berbasis data yang lebih efektif, sekaligus meraih keunggulan kompetitif melalui peningkatan efisiensi dan kelincahan operasional.
AI mendorong inovasi dengan membuka peluang baru, mempercepat proses penelitian dan pengembangan, serta menganalisis data seperti masukan pelanggan dan tren pasar untuk menemukan solusi produk baru.
AI digunakan untuk berbagai fungsi bisnis di seluruh industri untuk meningkatkan efisiensi dan memberikan insight berbasis data. Beberapa area utama di mana organisasi menerapkan AI meliputi:
Proses TI sangat cocok untuk integrasi AI, dengan satu survei menunjukkan lebih dari setengah responden eksekutif sudah mengadopsi AI generatif untuk merampingkan proses tersebut. AI tradisional memiliki kemampuan untuk mengotomatisasi tugas rutin, meningkatkan keamanan, dan mengelola sistem dengan lebih efisien. Sebagai contoh, AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan kinerja jaringan serta memantau infrastruktur TI, sehingga dapat mendeteksi dan menyelesaikan masalah secara proaktif.
Semakin banyak departemen TI memanfaatkan AI generatif untuk memodernisasi aplikasi dan rekayasa platform yang lebih canggih, yang secara signifikan meningkatkan produktivitas. AI kini menjadi alat penting dalam keamanan siber, memungkinkan pemantauan data jaringan dalam jumlah besar secara efisien untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan atau potensi pelanggaran dengan cepat dan akurat.
AI digunakan untuk mempercepat respons, menyediakan interaksi yang lebih personal, dan meningkatkan efisiensi dalam proses layanan pelanggan. Teknologi Natural Language Processing (NLP) memungkinkan AI memahami dan merespons pertanyaan pelanggan secara real-time, meningkatkan pengalaman pengguna sekaligus menganalisis sentimen untuk menilai reaksi dan opini konsumen.
Chatbot dan asisten virtual berbasis AI dapat menjawab pertanyaan pelanggan dan menyelesaikan masalah umum, memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan layanan mandiri. Sementara itu, karyawan dapat lebih fokus pada tugas-tugas yang kompleks dan bernilai tinggi. Alat berbasis AI dapat merangkum dan menganalisis keluhan dari ulasan, media sosial, dan berbagai sumber data lainnya. Ini memberikan insight tentang kinerja bisnis sekaligus membantu mengidentifikasi masalah potensial dan peluang perbaikan.
AI menyederhanakan operasi rantai pasokan dengan meningkatkan akurasi perkiraan permintaan, mengoptimalkan pengelolaan inventaris, dan meningkatkan efisiensi logistik. Salah satu contohnya adalah forecasting, di mana model AI menganalisis data penjualan historis dan faktor eksternal untuk memprediksi tren pemesanan di masa depan. Hal ini membantu mengoptimalkan pengelolaan persediaan. AI dapat digunakan untuk menilai kinerja pemasok, mengotomatisasi proses pengisian stok, dan mengoptimalkan rute transportasi. Hal ini membantu mempercepat pengiriman sekaligus menekan biaya operasional.
Perangkat lunak dan aplikasi berbasis AI dapat merevolusi pengelolaan SDM dengan menyederhanakan proses perekrutan, meningkatkan keterlibatan karyawan, dan mengoptimalkan pengelolaan tenaga kerja. Hal ini mencakup otomatisasi proses penting dan berulang, seperti pengajuan permintaan kerja, penyaringan resume, dan verifikasi riwayat pekerjaan. Ini juga termasuk menggunakan sistem AI untuk membuat pelatihan orientasi yang dipersonalisasi.
Beberapa organisasi memanfaatkan AI untuk menganalisis data kinerja karyawan, seperti metrik produktivitas, guna mengidentifikasi kandidat potensial untuk promosi internal atau menemukan pelamar kerja yang memiliki prospek menjanjikan. Orang lain mungkin menerapkan chatbot untuk menyediakan layanan mandiri SDM percakapan kapan saja sepanjang hari.
AI membantu meningkatkan penjualan dan pemasaran dengan menyediakan pengalaman pelanggan yang lebih personal, mempercepat perolehan prospek, dan mengoptimalkan efektivitas kampanye pemasaran. Hal ini mencakup penggunaan analisis prediktif untuk mempelajari data pelanggan dan tren penjualan, guna mengidentifikasi prospek yang paling berpotensi untuk dikonversi menjadi pelanggan bernilai tinggi.
AI juga membantu departemen pemasaran mengelompokkan pelanggan mereka secara lebih efektif dan mempersonalisasi pengalaman pelanggan mereka—misalnya, dengan menggunakan mesin rekomendasi untuk menampilkan produk atau, menggunakan AI generatif, dengan membuat situs web hiperpersonalisasi dan komunikasi yang dipesan lebih dahulu. Selain itu, AI sering digunakan dalam pemasaran untuk menganalisis kinerja kampanye iklan digital secara real-time, sehingga dapat memaksimalkan pendapatan yang dihasilkan dari kampanye tersebut.
AI semakin banyak digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional dengan mengotomatisasi alur kerja, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan mendorong peningkatan produktivitas. Alat RPA yang didukung AI secara otomatis menangani tugas-tugas berulang, seperti entri data, pemrosesan dokumen, dan pengelolaan faktur. Hal ini mengurangi risiko kesalahan manusia sekaligus memungkinkan karyawan fokus pada aktivitas yang lebih strategis.
AI membantu bisnis mengidentifikasi inefisiensi operasional dengan menganalisis data kinerja dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan, seperti pengalokasian sumber daya yang lebih efisien atau penyesuaian jadwal produksi. Dalam industri manufaktur, alat bantu AI dapat digunakan untuk pemeliharaan prediktif, yang membantu mengurangi waktu henti operasional dan menekan biaya perbaikan.
AI sering digunakan untuk meningkatkan manajemen risiko, mengotomatisasi tugas-tugas keuangan, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif. Sistem AI dapat menganalisis pola transaksi untuk deteksi anomali secara real-time, mencegah penipuan. Beberapa alat bantu AI dapat mengotomatiskan tugas seperti pelacakan pengeluaran, pemrosesan faktur, dan pelaporan keuangan, sehingga mengurangi waktu yang dihabiskan untuk entri data secara manual. Alat analitik yang didukung AI juga membantu perusahaan memprediksi tren keuangan, termasuk pendapatan dan arus kas. Perkiraan ini memungkinkan bisnis membuat keputusan secara proaktif, mengidentifikasi potensi masalah, dan mengelola keuangan dengan lebih efisien.
Sebelum menerapkan AI, penting untuk mengidentifikasi tujuan bisnis spesifik yang dapat dicapai dengan bantuan AI—sehingga strategi bisnis dapat menjadi panduan bagi strategi AI. Proses ini mungkin melibatkan pemetaan bagaimana AI terintegrasi ke dalam alur kerja dan sistem yang ada, mengidentifikasi proses kunci yang paling cocok untuk augmentasi dan menentukan tujuan terukur untuk sukses.
Alat AI hanya dapat diandalkan seperti data yang digunakan untuk melatihnya. Sebuah organisasi biasanya mengevaluasi infrastruktur teknologi saat ini untuk kesiapan AI setelah tahap perencanaan. Tahap ini biasanya mencakup evaluasi ketersediaan data serta tingkat keterampilan karyawan. Pada tahap ini, organisasi juga menentukan kumpulan data, model, dan arsitektur yang paling sesuai untuk mendukung contoh penggunaan spesifik perusahaan.
Strategi data yang kuat, dan kebijakan tata kelola data yang kuat, dapat menjadi penting untuk AI yang etis. Dalam fase ini, organisasi biasanya mengembangkan proses untuk meningkatkan transparansi dan keamanan, sekaligus menetapkan panduan perusahaan terkait penggunaan data dan AI secara bertanggung jawab.
Setelah strategi data diterapkan serta data berhasil dikumpulkan dan dibersihkan, langkah selanjutnya bagi bisnis adalah memastikan ketersediaan keterampilan yang relevan dan pemangku kepentingan yang tepat untuk mendukung implementasi strategi tersebut. Proses ini biasanya melibatkan kerja sama erat antara tim bisnis, operasional, dan teknis untuk memastikan contoh penggunaan AI yang seimbang, dengan mempertimbangkan risiko dan manfaat secara menyeluruh. Jika bisnis tidak memiliki akses ke pakar yang diperlukan atau membutuhkan tambahan keterampilan untuk mengimplementasikan proyek AI, mereka dapat bermitra dengan pihak ketiga guna mendukung keberhasilan proyek tersebut.
Alih-alih langsung menanamkan AI ke seluruh aspek bisnis, organisasi yang sukses biasanya memulai dengan menerapkan AI pada tugas atau alur kerja tertentu di area yang memiliki risiko lebih rendah. Pilot-pilot ini kemudian dapat diuji dan disempurnakan sebelum diskalakan di seluruh bisnis.
Dampak AI di tempat kerja memiliki implikasi luas bagi pasar tenaga kerja dan masa depan pekerjaan. Meskipun penggunaan AI sering dikaitkan dengan peningkatan produktivitas bisnis, banyak yang memprediksi bahwa teknologi ini akan membawa perubahan signifikan pada jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja serta cara mereka dilatih.
Menurut laporan McKinsey, hingga 30% jam kerja di seluruh ekonomi AS dapat diotomatisasi pada tahun 2030, yang akan membutuhkan sekitar 12 juta transisi pekerjaan di tahun yang sama.1 Selain itu, penelitian terbaru dari IBM Institute for Business Value menunjukkan bahwa organisasi yang menerapkan AI pada tingkat operasional, bukan hanya berbasis keterampilan, mencatat kinerja hingga 44% lebih baik dibandingkan rekan-rekannya dalam metrik seperti retensi karyawan dan pertumbuhan pendapatan. Temuan ini sejalan dengan perkiraan Forum Ekonomi Dunia, yang memproyeksikan bahwa meskipun dalam beberapa tahun ke depan sekitar 85 juta pekerjaan secara global mungkin hilang, teknologi baru berpotensi menciptakan 97 juta pekerjaan baru.2
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi AI secara luas akan membutuhkan inisiatif peningkatan keterampilan yang signifikan untuk melatih kembali tenaga kerja di tingkat global. Seiring dengan meningkatnya penggunaan alat bantu AI dan semakin umumya pekerjaan yang melibatkan kolaborasi dengan AI, perusahaan kemungkinan akan lebih berfokus pada upaya memaksimalkan efisiensi dalam interaksi antara manusia dan mesin.
1. AI Generatif dan Masa Depan Pekerjaan di Amerika, McKinsey Global Institute, 26 Juli 2023
2. Resesi dan otomatisasi mengubah masa depan pekerjaan kita, tetapi masih ada pekerjaan yang akan datang, kata laporan tersebut, World Economic Forum, 20 Oktober 2020
Latih, validasi, lakukan tuning, dan terapkan AI generatif, model dasar, dan kemampuan machine learning dengan IBM watsonx.ai, studio perusahaan generasi berikutnya untuk pembangun AI. Bangun aplikasi AI dalam waktu singkat, dengan sedikit data.
Gunakan AI di bisnis Anda dalam perpaduan antara keahlian AI terdepan di industri dari IBM dan portofolio solusi Anda.
Temukan kembali alur kerja dan operasi yang penting dengan menambahkan AI untuk memaksimalkan pengalaman, pengambilan keputusan secara real-time, dan nilai bisnis.